Jejak Digital
Di sebuah kota kecil yang damai, hiduplah seorang pemuda bernama Arman. Ia dikenal aktif di media sosial. Setiap hari, jarinya lincah menekan layar ponsel—membagikan berita, komentar, dan berbagai hal yang menurutnya menarik.
Suatu malam, Arman menerima sebuah video dari grup pesan. Video itu berisi konten pribadi seseorang yang jelas tidak pantas untuk disebarkan. Beberapa temannya sudah lebih dulu membagikannya dan menertawakannya di kolom komentar.
Arman hampir saja menekan tombol “bagikan”.
Namun tiba-tiba ia teringat kata-kata ayahnya dahulu, “Ruang publik itu seperti halaman rumah bersama. Kalau kita mengotorinya, kita juga yang akhirnya hidup di dalam kotoran itu.”
Arman terdiam. Ia membayangkan jika orang dalam video itu adalah saudaranya sendiri. Ia juga membayangkan suatu hari nanti anaknya membuka jejak digitalnya dan menemukan bahwa ayahnya pernah ikut menyebarkan sesuatu yang merusak martabat orang lain.
Tangannya perlahan menjauh dari tombol “bagikan”.
Sebaliknya, Arman menulis sebuah pesan di grup itu:
“Teman-teman, media sosial seharusnya jadi tempat berbagi inspirasi, bukan tempat menyebarkan hal yang merusak. Martabat seseorang bukan untuk dijadikan tontonan.”
Sebagian orang menertawakannya. Tapi ada juga yang akhirnya menghapus kiriman mereka.
Malam itu Arman belajar satu hal penting:
Jejak digital bukan sekadar kumpulan unggahan. Ia adalah cermin siapa kita sebenarnya—dan warisan yang suatu hari akan dilihat oleh generasi setelah kita.
Karena itu, sebelum menekan tombol “bagikan”, Arman selalu mengingat satu pertanyaan sederhana:
“Apakah aku ingin dikenang karena ini?”



No comments