Header

Header
  • Breaking News

    Belajar dari Sebatang Pohon

    Di sebuah desa kecil di pinggir hutan Papua, berdirilah sebuah pohon tua yang dikenal warga sebagai “Penjaga Teduh”. Pohon itu tidak pernah menolak siapa pun yang datang. Entah petani yang lelah, anak-anak yang bermain, atau musafir yang singgah sebentar—semuanya dipersilakan berteduh di bawah rindangnya daun.

     Belajar dari Sebatang Pohon



    Di sebuah desa kecil di pinggir hutan Papua, berdirilah sebuah pohon tua yang dikenal warga sebagai “Penjaga Teduh sambil menatap senja”. Pohon itu tidak pernah menolak siapa pun yang datang. Entah petani yang lelah, anak-anak yang bermain, atau musafir yang singgah sebentar—semuanya dipersilakan berteduh di bawah rindangnya daun.

    Suatu hari, seorang pemuda bernama Arman datang dengan hati penuh amarah. Ia baru saja dikhianati sahabatnya, dan sejak saat itu ia bersumpah tidak akan lagi berbuat baik kepada siapa pun.

    Arman duduk di bawah pohon itu, menghela napas panjang. “Untuk apa berbuat baik,” gumamnya, “kalau akhirnya disakiti juga?”

    Angin berhembus pelan, membuat daun-daun bergesekan seolah berbisik. Tak lama kemudian, seorang nenek tua bernama Mama Lidia datang membawa seikat kayu bakar. Ia tersenyum melihat Arman.

    “Kau tampak lelah, Nak,” katanya lembut.

    “Bukan hanya lelah,” jawab Arman singkat, “saya juga kecewa.”

    Nenek itu duduk di sampingnya, bersandar pada batang pohon. “Kau tahu kenapa pohon ini tetap berdiri di sini?” tanyanya.

    Arman menggeleng.

    “Karena ia tidak memilih siapa yang boleh berteduh. Bahkan orang yang pernah memotong dahannya pun tetap ia beri naungan.”

    Arman terdiam.

    “Tapi bukankah itu bodoh?” katanya kemudian. “Kenapa harus baik kepada orang yang mungkin akan menyakiti kita?”

    Mama Lidia tersenyum. “Kebaikan bukan tentang mereka, Nak. Kebaikan adalah tentang siapa kita.”

    Hening sejenak. Angin kembali berhembus, membawa kesejukan yang perlahan menenangkan hati Arman.

    Hari demi hari berlalu. Arman mulai kembali ke tempat itu, bukan hanya untuk berteduh, tetapi untuk membantu siapa saja yang datang. Ia menimba air untuk orang tua, mengangkat barang milik pedagang, bahkan tersenyum kepada orang asing.

    Suatu sore, sahabat yang pernah mengkhianatinya datang dengan wajah penuh penyesalan. Arman menatapnya lama. Hatinya sempat bergejolak, namun ia teringat pada pohon tua itu.

    Tanpa banyak kata, Arman mempersilakan sahabatnya duduk di sampingnya.

    “Aku minta maaf,” kata sahabat itu lirih.

    Arman mengangguk pelan. “Duduklah. Di sini teduh.”

    Di bawah pohon itu, Arman akhirnya mengerti—bahwa seperti pohon yang tidak memilih siapa yang berteduh, kebaikan pun seharusnya mengalir tanpa pamrih.

    Karena pada akhirnya, bukan dunia yang berubah karena kebaikan kita… tapi hati kita sendiri yang menjadi lebih lapang.

    No comments

    Post Top

    Post Bottom

    👉 Kunjungi Kartikel menarik lainnya di website resmi kami: 👉 👉 Klik Lalu Baca selengkapnya di sini