GEMA MARTELU DI TANAH SKENDI
GEMA MARTELU DI TANAH SKENDI
Di bawah langit Skendi yang membakar kening,
Seorang putra Fakfak berdiri tegap, menantang hening.
Bukan dengan kata-kata ia bicara pada bumi,
Tapi dengan Martelu delapan belas kilo yang ia dekap murni.
Ting... trak!
Dua tahun ia mencumbu cadas yang keras kepala,
Membungkus sabar dalam peluh yang mengalir ke dada.
Linggis tumpul dan betel baja menjadi saksi,
Bagaimana punggung perantau tak kenal arti berhenti.
Setiap hantaman adalah doa,
Setiap retakan adalah harapan yang mulai terbuka.
Hingga perut bumi pun menyerah kalah,
Menyingkap lubang gelap, sebuah anugerah di balik lelah.
Chados tidak hanya memecah batu,
Ia membedah jalan, menyatukan strategi dan waktu.
Keringat yang tumpah ia jahit menjadi rapi,
Hingga suara semen kini menggantikan denting besi.
Kini bangunan itu berdiri tegak dan kokoh,
Sebuah monumen dari jiwa yang tak pernah roboh.
Bahwa perubahan besar tak butuh mesin-mesin canggih,
Cukup hati yang jujur, martelu berat, dan tekad yang gigih.



No comments