Harga yang Terlihat
Judul: Harga yang Terlihat
Di sudut kafe kecil yang temaram, Alya duduk sambil menatap layar ponselnya. Notifikasi terus berdatangan—pesan dari pria-pria yang tak pernah benar-benar ia kenal. Mereka memuji, menggoda, bahkan menjanjikan hal-hal yang terdengar indah, meski kosong.
Alya tersenyum tipis. Dulu, semua itu terasa seperti kemenangan. Semakin banyak yang datang, semakin ia merasa berharga. Seolah dirinya adalah pusat dari perhatian yang tak pernah habis.
Namun malam itu berbeda.
Di meja sebelah, seorang wanita paruh baya berbicara lembut pada anak perempuannya.
“Jangan ukur dirimu dari seberapa banyak orang yang mengejarmu,” katanya pelan, tapi cukup jelas untuk terdengar. “Yang penting adalah siapa yang bertahan tanpa perlu kamu menjual dirimu.”
Kalimat itu menancap di hati Alya.
Ia kembali melihat ponselnya. Banyak nama, banyak pesan, tapi tak satu pun benar-benar peduli. Semua hanya ingin, bukan menghargai.
Perlahan, ia mengunci layar.
Alya teringat sesuatu yang pernah ia baca:
“Memiliki banyak pria di belakang bukan berarti kamu wanita hebat atau cantik… Perlu diingat bahwa harga murah menarik banyak pelanggan.”
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa bangga. Ia merasa lelah.
Malam itu, Alya bangkit dari kursinya, meninggalkan kafe, dan juga kebiasaan lamanya. Ia memilih pulang, bukan untuk menunggu pesan baru, tetapi untuk menemukan kembali harga dirinya—yang tak seharusnya ditentukan oleh siapa pun, apalagi oleh mereka yang hanya datang karena mudahnya akses, bukan karena tulusnya niat.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar kuat.



No comments