Malam turun perlahan, seperti tirai yang ditarik tanpa suara.
Bagi banyak orang, ia membawa istirahat.
Namun bagi Stella, malam adalah ruang tanpa jendela—tempat napas terasa sempit dan waktu berjalan terlalu lambat.
Bayang-bayang merambat di dinding kamar, memanjang seperti kecemasan yang tak bisa ia lipat kembali.
Di tepi ranjang, ia duduk diam, menatap seprai yang terlalu rapi—seolah menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar ia inginkan.
Di balik pintu yang tertutup, cinta berubah bentuk.
Bukan lagi pelukan yang menenangkan, melainkan gelombang yang datang tanpa henti.
Ia tenggelam, berulang kali, dalam kelelahan yang tak pernah sempat pulih.
Malam bagi Stella adalah maraton tanpa garis akhir.
Detak jam menjadi saksi, napas berat menjadi latar, dan langit-langit kamar menjadi satu-satunya tempat ia menggantung harapan kecil:
pagi.
Ketika cahaya akhirnya masuk melalui celah gorden, Stella menarik napas panjang.
Bukan karena ia benar-benar pulih—
melainkan karena ia selamat, sekali lagi.



0 Comments