Kepalaku disegel negara.
Sejarah digembok.
Kuncinya terbuat dari lupa.
Mungkin segelnya tidak kelihatan. Tidak ada stempel merah di dahi, tidak ada rantai yang mengikat pikiran. Tetapi kita tahu ia ada—halus, rapi, dan sering kali tampak seperti aturan yang baik-baik saja.
Di dalam kepala itu sebenarnya ada banyak kamar. Ada kamar kenangan, kamar pertanyaan, kamar cerita lama yang kadang membuat kita tidak nyaman. Tetapi sebagian kamar telah dikunci. Bukan dengan besi, melainkan dengan lupa.
Lupa adalah bahan yang aneh. Ia ringan, tetapi kuat. Ia tidak berbunyi ketika dipasang, tetapi perlahan membuat pintu-pintu sejarah tak lagi dibuka. Kita diajari mengingat hal-hal tertentu, tetapi juga diajari melupakan yang lain. Yang nyaman disimpan, yang mengganggu ditidurkan.
Negara, seperti kepala kita, suka kerapian. Ia suka cerita yang lurus, tanpa retak. Padahal sejarah selalu punya retakan kecil: kesalahan, luka, dan orang-orang yang hilang dari halaman buku.
Kadang saya berpikir, barangkali segel itu tidak benar-benar menutup kepala kita. Ia hanya menunggu seseorang yang cukup penasaran untuk mencoba membukanya. Bukan dengan palu, melainkan dengan ingatan.
Sebab begitu kita mulai mengingat, kunci dari lupa itu perlahan berkarat. Dan kepala kita, yang lama disegel, mungkin akan kembali menjadi rumah bagi pertanyaan-pertanyaan kecil yang diam-diam ingin hidup lagi.



0 Comments