Tidak semua percakapan bertujuan mencari kebenaran. Banyak di antaranya hanya perlombaan untuk menang.
Orang bodoh berdebat. Ia tidak mendengar, ia hanya menunggu giliran berbicara. Setiap kalimat lawannya dianggap serangan yang harus dipatahkan. Baginya, percakapan adalah medan perang kecil tempat ego mencari kemenangan yang murah.
Orang bijak berdiskusi. Ia tidak terlalu sibuk mempertahankan dirinya sendiri. Ia bertanya, menimbang, dan kadang mengubah pikirannya. Baginya, percakapan adalah jembatan—tempat dua pikiran berjalan menuju pengertian yang lebih luas.
Tetapi orang yang benar-benar cerdas kadang memilih diam. Bukan karena ia tidak memiliki jawaban, melainkan karena ia tahu tidak semua telinga siap mendengar. Ada saat ketika kata-kata hanya akan memperpanjang kebisingan.
Diam, dalam keadaan seperti itu, bukan kekalahan. Ia adalah cara paling halus untuk menjaga akal tetap jernih di tengah keramaian suara.
Sebab pada akhirnya, kebenaran tidak selalu membutuhkan banyak kata. Kadang ia hanya membutuhkan seseorang yang cukup mengerti untuk tidak ikut menambah keributan.



0 Comments