Header Widget

Dibalik Gunung Skendi

Dibalik Gunung Skendi

 Dibalik Gunung Skendi


Di sebuah kampung kecil bernama Skendi, hiduplah seorang pemuda yang dikenal dengan nama Gedilayu. Ia tumbuh di antara suara angin dan cerita-cerita tua yang diwariskan para tetua kampung.

Namun hidup Gedilayu tidak selalu tenang. Beberapa tahun lalu, ia pernah mengalami masa yang begitu berat. Orang-orang yang ia percaya meninggalkannya. Ada yang mengkhianati persahabatan, ada pula yang menertawakan kegagalannya saat ia sedang jatuh. Luka itu begitu dalam hingga membuatnya memilih menjauh dari banyak orang.

Waktu berjalan. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Perlahan, badai yang pernah mengguncang hidupnya mulai mereda. Gedilayu kembali bekerja, membantu keluarga, dan menjalani hari-harinya dengan lebih tenang.

Suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam di balik gunung Skendi, seorang anak muda bertanya kepadanya.

"Ko tidak marah lagi kah sama orang-orang yang dulu bikin ko susah?"

Gedilayu tersenyum tipis sambil memandang langit yang berwarna biru.

"Bukan untuk meratapi luka yang telah lalu," katanya. "Bukan juga untuk simpan dendam."

Anak muda itu terdiam mendengarkan.

"Sa ingat semua yang pernah terjadi bukan supaya sa terus sakit hati. Tapi supaya sa tidak jadi orang yang sombong ketika hidup sa mulai baik. Supaya sa tetap ingat bagaimana rasanya jatuh, bagaimana rasanya ditolong, dan bagaimana rasanya berharap saat tidak ada jalan."

Angin sore berhembus . Gedilayu melanjutkan,

"Kalau luka membuat hati jadi keras, berarti luka itu menang. Tapi kalau luka membuat kita lebih bijaksana, berarti kita yang menang."

Matahari akhirnya tenggelam di balik gunug Skendi. Dan di antara suara buruk kaok yang tak pernah berhenti, Gedilayu memahami satu hal: masa lalu bukan untuk ditangisi selamanya, melainkan untuk mengajarkan kerendahan hati ketika badai telah berlalu.

Karena yang paling kuat bukanlah orang yang membalas luka, melainkan orang yang mampu menjadikannya pelajaran hidup.

Post a Comment

0 Comments