Franky Woro dalam film dokumenter Pesta Babi menjadi gambaran nyata bagaimana masyarakat adat Papua
Kalimat yang disampaikan Franky Woro dalam film dokumenter Pesta Babi menjadi gambaran nyata bagaimana masyarakat adat Papua memandang hutan sebagai sumber kehidupan yang tak tergantikan.
Bagi Suku Awyu dan banyak masyarakat adat lainnya di Papua, hutan bukan hanya kumpulan pohon atau lahan kosong yang menunggu untuk dimanfaatkan. Hutan adalah rumah, sumber pangan, tempat berburu, sumber air bersih, ruang spiritual, sekaligus warisan leluhur yang dijaga turun-temurun.
Namun dalam beberapa dekade terakhir, kawasan hutan adat di Papua terus menghadapi tekanan akibat ekspansi perkebunan sawit, pertambangan, dan berbagai proyek industri berskala besar. Pembukaan lahan yang masif mengubah bentang alam yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat setempat.
Ketika hutan ditebang, yang hilang bukan hanya pepohonan. Sungai berubah, satwa menghilang, sumber pangan berkurang, dan ruang hidup masyarakat adat semakin menyempit. Bersamaan dengan itu, tradisi, pengetahuan leluhur, serta identitas budaya yang telah diwariskan selama generasi ikut terancam.
Pernyataan Franky Woro mengingatkan bahwa tidak semua hal dapat diukur dengan nilai investasi atau keuntungan ekonomi. Bagi masyarakat adat, keberadaan hutan memiliki makna yang jauh lebih besar karena menyangkut keberlangsungan hidup mereka hari ini dan masa depan anak cucu mereka.
Di tengah berbagai agenda pembangunan, suara masyarakat adat menjadi pengingat bahwa pelestarian hutan bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga menghormati hak hidup mereka yang sejak lama menjaga dan merawat alam tanpa merusaknya.
Sebab ketika hutan terakhir hilang, yang lenyap bukan sekadar bentang hijau Papua, melainkan juga bagian dari sejarah, budaya, dan kehidupan yang tidak akan pernah bisa digantikan.



0 Comments