Judul : BETA RELA JADI KULI DEMI ALE
Matahari baru saja muncul dari balik laut ketika Arman mengangkat karung semen ke atas bahunya. Keringat sudah membasahi wajahnya, padahal hari belum benar-benar siang. Setiap langkah terasa berat, tetapi di dalam hatinya hanya ada satu nama: Nona.
"Biar badan beta sakit, asal ale bisa senyum," bisinya .
Arman hanyalah seorang kuli bangunan di kota. Upah hariannya tidak seberapa. Kadang cukup untuk makan, kadang harus berutang sampai pekerjaan berikutnya datang. Namun setiap kali menerima gaji, ia selalu menyisihkan sedikit uang untuk membeli sesuatu yang sederhana bagi perempuan yang dicintainya.
Bukan emas.
Bukan juga barang mahal.
Kadang hanya sekuntum bunga, sepotong roti, atau sebungkus kopi kesukaan Nona.
Bagi Arman, melihat perempuan itu tersenyum sudah lebih berharga daripada seluruh isi dompetnya.
Suatu sore, mereka duduk di tepi pantai. Ombak datang silih berganti, membawa angin yang menenangkan.
"Nona," kata Arman lirih, "beta seng bisa kasih hidup mewah. Rumah besar juga seng ada. Tapi beta janji, hati ini cuma par ale."
Nona menatap wajah Arman yang mulai menghitam karena panas matahari. Telapak tangannya kasar dipenuhi bekas luka. Luka-luka itu bukan karena berkelahi, melainkan karena bekerja keras.
"Beta takut..." ucap Nona pelan.
"Takut apa?"
"Takut suatu hari ale cape deng beta."
Arman tersenyum.
"Beta rela jadi kuli demi ale. Kalaupun harus hidup susah, beta seng takut. Yang beta takut cuma satu..."
"Apa?"
"Ale berhenti percaya deng beta."
Air mata Nona perlahan jatuh.
Hari-hari berlalu. Cobaan datang silih berganti. Ada saat Arman kehilangan pekerjaan. Ada masa mereka harus makan seadanya. Bahkan pernah Arman tidur di emperan toko karena tidak memiliki ongkos pulang setelah mencari pekerjaan.
Namun setiap kali bertemu Nona, ia selalu tersenyum.
"Jang ale resah. Beta masih kuat."
Bagi Arman, laki-laki bukan dinilai dari mahalnya pakaian atau banyaknya uang, tetapi dari kemampuannya menjaga perempuan yang dicintainya tetap merasa aman.
Suatu malam, Nona mendengar kabar bahwa ada pria lain yang jauh lebih mapan ingin melamarnya.
Semua orang berkata, "Pilih yang kaya. Masa depan lebih terjamin."
Nona hanya diam.
Ia teringat wajah Arman yang setiap hari pulang dengan pakaian penuh debu. Teringat tangan kasarnya yang selalu menggenggam tangannya dengan lembut. Teringat setiap doa yang selalu dipanjatkan Arman agar hidup mereka kelak menjadi lebih baik.
Keesokan harinya, Nona menemui Arman.
"Maafkan beta kalau selama ini sering ragu."
Arman menatapnya tanpa berkata apa-apa.
"Banyak yang bisa kasih beta kemewahan. Tapi seng semua orang bisa kasih hati seperti ale."
Air mata Arman akhirnya jatuh.
Ia bukan menang karena kaya.
Ia bukan menang karena tampan.
Ia menang karena tidak pernah berhenti mencintai.
Sejak hari itu mereka belajar menjalani hidup bersama. Rezeki memang tidak selalu banyak, tetapi cinta mereka selalu cukup untuk membuat mereka bertahan.
Arman tetap bekerja sebagai kuli. Ia tidak malu dengan pekerjaannya.
Karena baginya, laki-laki sejati bukan yang selalu memberi kemewahan, melainkan yang tetap berdiri paling depan ketika perempuan yang dicintainya membutuhkan perlindungan.
Dan setiap kali Nona mulai khawatir tentang masa depan, Arman selalu mengucapkan kalimat yang sama, kalimat yang menjadi janji seumur hidupnya.
"Maafkan beta kalau masih banyak kurang di beta pung diri. Tapi soal cinta, jang ale ragu sayang... beta pejuang setia, Nonae."






0 Comments