Pelabuhan Terakhir
Langit siang itu tampak cerah di halaman Kantor Bupati. Banyak wajah tersenyum. Beberapa orang saling berpelukan sambil menggenggam map putih bertuliskan SK CPNS. Tangis haru bercampur tawa memenuhi suasana.
Di sudut halaman, Alin berdiri sendiri.
Matanya sembab. Bibirnya bergetar menahan air mata yang sejak tadi tak berhenti mengalir. Dari kejauhan, ia melihat seseorang yang pernah menjadi tempat ia menitipkan mimpi kini tersenyum bahagia bersama perempuan lain.
Di tangan laki-laki itu ada selembar SK CPNS.
Alin tersenyum pahit.
Bukan karena iri pada keberhasilannya. Ia justru ikut bangga. Yang membuat dadanya sesak adalah kenyataan bahwa setelah impian itu tercapai, dirinya bukan lagi orang yang berdiri di sampingnya.
Dulu mereka berjuang bersama.
Belajar hingga larut malam, saling menyemangati saat gagal, saling menguatkan ketika keluarga mulai meragukan perjuangan mereka. Mereka pernah berjanji, siapa pun yang lebih dulu berhasil, tak akan meninggalkan yang lain.
Namun hidup ternyata tak selalu menepati janji.
Hari ini, laki-laki itu memeluk orang lain.
Alin hanya mampu menunduk.
Dalam hati ia berbisik,
"Susah senang, jatuh bangun dengan saya. Sekarang setelah terima SK CPNS, kamu menggandeng yang lain. Tidak apa-apa. Mungkin saya yang salah pelabuhan. Saya kira kamu adalah pelabuhan terakhir, ternyata hanya tempat singgah sebelum berlabuh di hati orang lain."
Air matanya kembali jatuh.
Tetapi kali ini ia tidak ingin terus menangisi seseorang yang telah memilih jalan berbeda.
Ia mengusap pipinya, menarik napas panjang, lalu tersenyum kepada dirinya sendiri.
Mungkin benar, bukan dia yang salah.
Hanya saja, ia terlalu lama menunggu kapal yang memang sejak awal tidak ditakdirkan berlabuh di dermaganya.
Ia berbalik meninggalkan halaman Kantor Bupati.
Langkahnya masih berat, tetapi hatinya mulai belajar ikhlas.
Karena ia sadar, kehilangan seseorang bukan berarti kehilangan masa depan.
Suatu hari nanti, akan ada seseorang yang datang bukan hanya untuk menemani saat susah, tetapi juga tetap menggenggam tangannya ketika kebahagiaan telah berhasil diraih.
Dan saat hari itu tiba, Alin tak lagi mencari pelabuhan terakhir.
Sebab ia telah menemukan rumah yang tidak akan meninggalkannya.



0 Comments