Salah satu kesalahan terbesar dalam hidup adalah menilai perjuangan orang lain hanya dari hasil yang terlihat.
Banyak orang memandang seorang pengusaha atau pejabat dengan penuh prasangka.
"Dia sombong."
"Dia pelit."
"Dia punya segalanya."
Kalimat-kalimat seperti itu sering lahir dari mereka yang hanya melihat puncak gunung, tetapi tidak pernah mengetahui bagaimana gunung itu didaki.
Seorang pekerja mungkin melihat bosnya memiliki rumah, kendaraan, kantor, dan usaha yang terus berkembang. Namun, yang tidak ia lihat adalah malam-malam tanpa tidur, tekanan membayar gaji karyawan, tagihan supplier, kewajiban pajak, cicilan bank, hingga risiko kehilangan seluruh harta jika usahanya gagal.
Ironisnya, ketika pekerja membutuhkan uang, bosnya beberapa kali membantu. Tetapi saat suatu hari permintaan pinjaman ditolak karena alasan tertentu, atau ketika pekerja ditegur karena terlambat masuk kerja maupun lambat mengembalikan pinjaman, penilaian itu berubah menjadi kebencian.
"Bos saya pelit."
Padahal, kenyataannya sering kali jauh berbeda.
Suatu hari datang petugas bank ke tempat usaha.
Di hadapan para pekerja, terdengar percakapan sederhana.
"Pak, apakah Bapak ingin menaikkan plafon pinjaman? Kami melihat usaha Bapak terus berkembang."
Barulah sebagian pekerja sadar bahwa usaha yang selama ini mereka anggap berdiri di atas kemewahan ternyata dibangun di atas keberanian mengambil risiko.
Rumah pernah diagunkan.
Sertifikat tanah pernah dijaminkan.
Aset dijadikan modal.
Semuanya dilakukan agar usaha tetap hidup, berkembang, dan mampu memberikan pekerjaan kepada orang lain.
Di sinilah letak perbedaan pola pikir.
Sebagian orang takut berutang karena takut menanggung risiko. Itu adalah pilihan yang sah. Namun, banyak pengusaha berani memanfaatkan pembiayaan sebagai modal produktif dengan perhitungan yang matang. Mereka menanggung tekanan yang tidak sedikit demi membangun dan memperluas usaha.
Yang disayangkan, masih ada yang menganggap setiap utang sebagai tanda kegagalan.
Padahal dalam dunia bisnis modern, utang produktif merupakan salah satu instrumen pertumbuhan. Perusahaan-perusahaan besar, pabrik, jaringan supermarket, maskapai penerbangan, hingga berbagai industri dunia bertumbuh melalui kombinasi modal sendiri, investasi, pembiayaan bank, penerbitan obligasi, maupun saham. Yang menentukan bukan ada atau tidaknya utang, melainkan kemampuan mengelolanya secara sehat dan bertanggung jawab.
Namun, tidak semua orang memahami kenyataan itu.
Ada yang pulang lalu menyebarkan cerita:
"Bos saya ternyata banyak utang."
Kalimat itu diucapkan seolah-olah sebuah aib.
Padahal justru utang yang dikelola dengan baik itulah yang telah membangun usaha, membuka lapangan kerja, menghidupi banyak keluarga, dan menggerakkan roda perekonomian.
Perbedaan terbesar antara orang yang hanya menjadi penonton dan orang yang berani membangun bukan terletak pada siapa yang lebih kaya, melainkan pada siapa yang berani memikul risiko.
Semakin besar usaha, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Semakin banyak karyawan, semakin berat beban yang harus dipikirkan.
Dan semakin tinggi seseorang berdiri, semakin besar pula kemungkinan ia disalahpahami.
Karena itu, jangan iri kepada hasil yang tidak kita perjuangkan.
Jangan mencela keberhasilan yang tidak kita bangun.
Dan jangan pernah menganggap seseorang hidup mudah hanya karena kita tidak melihat beban yang ia pikul.
Orang bijak tidak menilai kehidupan dari apa yang tampak di depan mata, tetapi berusaha memahami proses yang tidak terlihat. Sebab, di balik setiap kesuksesan yang besar, hampir selalu ada keberanian mengambil risiko yang jauh lebih besar.



0 Comments