MAMA-MAMA PAPUA: PENJAGA EKONOMI RAKYAT YANG SERING DILUPAKAN
Setiap kali berkunjung ke pasar dan melihat Mama-Mama Papua berjualan di pinggir jalan, di dalam pasar, atau berjalan memikul noken berisi sayur, keladi, ubi, dan hasil kebun lainnya, selalu muncul satu pertanyaan liar di kepala saya:
Siapa orang asli Papua yang akan tetap bertahan ketika suatu hari Indonesia menghadapi krisis ekonomi dan politik?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, bahkan tidak masuk akal bagi sebagian orang.
Tetapi setiap kali saya mencoba menjawabnya, jawaban saya tetap sama:
Mama-Mama Pasar Papua.
Mereka mungkin tidak semuanya mengenyam pendidikan tinggi. Tetapi merekalah yang setiap hari mempertaruhkan hidupnya untuk membangun generasi Papua.
Mereka bangun sekitar pukul 04.00 pagi. Ketika sebagian besar orang masih terlelap, mereka sudah berada di jalan, menunggu angkutan atau ojek menuju pasar.
Mereka tidak pergi ke pasar untuk mencari kemewahan.
Mereka pergi untuk menyekolahkan anak, memenuhi kebutuhan keluarga, membantu kehidupan gereja, dan memastikan hari esok tetap berjalan.
Dari kebun mereka menanam.
Dari hasil kebun mereka membawa pulang pangan.
Dari pangan itu mereka pergi ke pasar.
Di pasar mereka menjual.
Dari hasil jualan itulah anak-anak mereka sekolah.
Begitulah ekonomi rakyat bekerja. Sederhana, tetapi nyata.
Mama-Mama Papua sebenarnya sedang mengajarkan sebuah pendidikan ekonomi yang sangat penting: produksi, distribusi, perdagangan, kemandirian, dan ketahanan pangan.
Namun, sering kali sistem ekonomi modern justru memandang pola tersebut sebagai sesuatu yang lazim, tidak tertata, bahkan dianggap tidak sesuai dengan konsep perdagangan modern.
Padahal, mungkin justru di situlah letak kekuatannya.
Mama-Mama tidak menunggu investasi besar.
Tidak menunggu perusahaan datang.
Tidak menunggu modal besar.
Mereka mempunyai kebun, tenaga, pengetahuan lokal, noken, dan pasar.
Dari situlah ekonomi keluarga mereka dibangun.
Lalu saya kembali bertanya:
Apa yang akan terjadi 20 atau 30 tahun ke depan ketika Mama-Mama Pasar Papua sudah tidak ada?
Siapa yang akan meneruskan kebun?
Siapa yang akan membawa hasil bumi ke pasar?
Siapa yang akan menjaga perdagangan rakyat Papua?
Siapa yang akan memastikan pangan tetap berada di tangan masyarakat Papua?
Jika generasi hari ini tidak mewarisi pengetahuan dan tradisi ekonomi tersebut, maka suatu saat generasi Papua bisa saja hanya menjadi konsumen di tanahnya sendiri.
Di situlah kita harus mulai melihat persoalan ini lebih serius.
Bukan sekadar persoalan Mama-Mama berjualan di pasar.
Ini adalah persoalan masa depan ekonomi orang asli Papua.
Ini tentang bagaimana sebuah generasi mewariskan pengetahuan ekonomi kepada generasi berikutnya.
Mama-Mama Pasar sebenarnya sedang memberikan pendidikan ekonomi kecil dan menengah yang hidup—bukan melalui ruang kuliah, tetapi melalui keringat mereka sendiri.
Sayangnya, pendidikan seperti ini sering tidak dianggap sebagai pengetahuan.
Kampus-kampus lebih banyak mengajarkan teori ekonomi yang dibangun dari pengalaman masyarakat lain, sementara praktik ekonomi lokal Papua justru dianggap tidak modern.
Pemerintah provinsi dan kabupaten juga sering melihat Mama-Mama Pasar hanya sebagai pedagang yang perlu ditata.
Padahal yang seharusnya ditanyakan adalah:
Bagaimana negara melindungi, memperkuat, dan mewariskan sistem ekonomi rakyat Papua yang sudah hidup selama puluhan bahkan ratusan tahun?
Mama-Mama Papua tidak harus dipaksa menjadi seperti pedagang lain.
Sistem merekalah yang harus dipahami.
Mereka membutuhkan pasar yang layak, akses transportasi, perlindungan ruang jualan, koperasi yang benar-benar berpihak kepada mereka, akses modal, penyimpanan hasil bumi, serta jalur distribusi yang membuat hasil kebun mereka memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Karena kalau Mama-Mama Papua kehilangan pasar, yang hilang bukan hanya tempat mereka berjualan.
Yang hilang adalah salah satu benteng ekonomi rakyat Papua.
Dan ketika benteng itu runtuh, jangan sampai anak cucu kita hanya menjadi penonton ketika ekonomi di tanahnya sendiri dikuasai oleh mereka yang memiliki modal lebih besar.
Papua bukan tanah kosong.
Papua memiliki generasi penerus.
Papua memiliki tanah.
Papua memiliki kebun.
Papua memiliki pangan.
Papua memiliki budaya.
Dan Papua memiliki Mama-Mama yang sejak subuh hingga malam terus menjaga roda ekonomi rakyat tetap berputar.
Jangan tunggu Mama-Mama Pasar hilang baru kita sadar bahwa selama ini merekalah salah satu penjaga ekonomi Papua.
Mama-Mama Pasar bukan masa lalu.
Mereka adalah bagian dari masa depan Papua.



0 Comments