KISAH CINTA YANG KELAM — SESI 7
SESI 7 — Akhir yang Belum Selesai
Pada akhirnya, sa berhenti mencari siapa yang paling salah.
Karena setelah semuanya terjadi, sa sadar...
kami berdua sama-sama pernah terluka, dan kami berdua juga pernah saling melukai.
Sa pernah merasa dia terlalu egois.
Sa pernah merasa tidak dihargai.
Sa pernah merasa hanya sa yang berjuang mempertahankan hubungan ini.
Tetapi setelah membaca tulisan itu, sa mulai melihat semuanya dari sisi yang berbeda.
Ternyata dia juga punya luka.
Dia juga pernah menangis.
Dia juga pernah merasa sendirian.
Dan mungkin, selama ini sa terlalu sibuk menghitung kesalahan dia sampai lupa melihat kesalahan sa sendiri.
Sa ingin dia berubah.
Tetapi sa lupa bertanya apakah sa juga sudah berubah menjadi pasangan yang lebih baik.
Dari situlah sa belajar...
cinta bukan hanya tentang meminta seseorang menerima kita apa adanya.
Cinta juga tentang keberanian untuk memperbaiki diri agar orang yang kita cintai tidak terus terluka karena kita.
Sa tidak tahu apakah hubungan ini akan kembali seperti dulu.
Tetapi sa sudah tidak ingin memaksakan sesuatu hanya karena takut kehilangan.
Kalau Tuhan masih memberikan kami kesempatan, sa ingin memulainya dengan cara yang berbeda.
Bukan dengan ego.
Bukan dengan saling menyalahkan.
Bukan dengan mengungkit masa lalu.
Tetapi dengan saling mendengarkan, saling menghargai, dan sama-sama belajar menjadi pasangan yang lebih baik.
Namun kalau ternyata Tuhan memilih jalan yang berbeda untuk kami...
sa juga akan belajar menerima.
Karena mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya sampai akhir hayat.
Kadang mencintai juga berarti mampu berkata:
"Terima kasih karena pernah hadir dalam hidup sa."
Terima kasih untuk semua tawa.
Terima kasih untuk semua kenangan.
Terima kasih untuk setiap perjuangan.
Dan bahkan...
terima kasih untuk setiap luka.
Karena tanpa semua itu, mungkin sa tidak akan pernah belajar mengenal diri sa sendiri.
Sekarang sa mengerti.
Hubungan kami bukan sekadar kisah tentang seorang laki-laki yang merasa disakiti oleh perempuan yang dicintainya.
Bukan pula kisah tentang perempuan yang dianggap terlalu egois.
Ini adalah kisah tentang dua manusia yang pernah saling mencintai, tetapi sama-sama memiliki kekurangan.
Kami pernah salah.
Kami pernah egois.
Kami pernah keras kepala.
Kami pernah saling menyakiti.
Tetapi kami juga pernah saling membahagiakan.
Dan mungkin itu yang membuat perpisahan terasa begitu berat.
Karena yang hilang bukan hanya seseorang...
tetapi juga sebagian dari kehidupan yang pernah kami bangun bersama.
Hari ini sa tidak lagi ingin memaksa Tuhan menjawab apakah dia adalah jodoh sa atau bukan.
Sa hanya ingin berdoa:
"Tuhan, kalau dia memang untuk sa, dekatkan kami dengan cara yang baik dan ubah kami menjadi dua manusia yang lebih dewasa."
"Tapi kalau dia bukan untuk sa, berikan sa hati yang cukup kuat untuk melepaskan tanpa membenci."
Karena pada akhirnya...
sa tidak ingin menang dalam sebuah hubungan.
Sa hanya ingin kami sama-sama menemukan kebahagiaan.
Entah nanti kebahagiaan itu ditemukan bersama...
atau di jalan yang berbeda.
Dan kalau suatu hari nanti kami benar-benar menjadi dua orang asing, sa akan tetap menyimpan satu hal:
dia pernah menjadi bagian terindah sekaligus paling kelam dalam perjalanan hidup sa.
Bukan untuk disesali.
Tetapi untuk dikenang sebagai sebuah pelajaran.
Sebab sekarang sa tahu...
orang yang kita cintai tidak selalu datang untuk tinggal selamanya.
Kadang mereka datang untuk mengubah kita.
Untuk mengajarkan kita tentang kesabaran.
Tentang kehilangan.
Tentang memaafkan.
Dan yang paling penting...
tentang bagaimana mencintai tanpa kehilangan diri sendiri.
Mungkin inilah akhir dari kisah kami.
Tidak ada siapa yang menang.
Tidak ada siapa yang kalah.
Hanya dua hati yang pernah saling memiliki...
kemudian belajar menerima bahwa hidup tidak selalu memberikan akhir seperti yang kita inginkan.
Dan untuk dia...
mantan terindah yang pernah menjadi bagian dari hidup sa...
Semoga hidupmu baik-baik saja.
Semoga suatu hari nanti, kalau kita mengingat kisah ini, tidak ada lagi rasa marah.
Hanya senyum kecil...
karena kita pernah saling mencintai dengan cara kita masing-masing.
Terima kasih sudah pernah menjadi rumah.
Dan maaf...
karena ternyata sa juga pernah membuat rumah itu tidak lagi terasa nyaman untukmu.
#KisahCintaYangKelam
#MantanTerindah
#CeritaKehidupan
#PelajaranCinta
#BelajarMenerima



0 Comments