![]() | |
| Pdt Yulita Souissa |
“RAJIN MENILAI ORANG, LUPA BERCERMIN.”
Ale paling cepat lihat orang pung salah.
Dia bicara sedikit, ale bilang sombong.
Dia diam, ale bilang angkuh.
Dia gagal, ale bilang seng mampu.
Dia jatuh, ale bilang itu akibat pung dosa.
Tapi anehnya…
Waktu orang lain salah, mata ale tajam sekali.
Waktu diri sandiri salah, mata tiba-tiba rabun.
Ale rajin menilai orang,
tapi lupa bercermin.
Ale sibuk menghitung kekurangan orang,
sampe lupa menghitung berapa banyak orang yang terluka karena mulut ale.
Ale tahu siapa yang kurang rohani.
Ale tahu siapa yang kurang baik.
Ale tahu siapa yang hidupnya seng beres.
Tapi…
Pernah ka ale duduk diam,
lalu tanya diri sandiri:
“Tuhan, bagaimana dengan beta?”
Jangan terlalu cepat bilang,
“Dia harus berubah.”
Mungkin Tuhan sedang bilang,
“Beta pung anak, bagaimana deng ale?”
Karena kadang-kadang,
kita bukan dipanggil untuk menjadi hakim atas hidup orang lain.
Kita dipanggil untuk membereskan hati sendiri.
Jangan sampai ale begitu sibuk menunjuk dosa orang,
sampe lupa bahwa waktu satu jari menunjuk ke orang lain,
tiga jari sedang menunjuk kembali ke diri ale.
Dan yang paling menyakitkan…
Ada orang yang merasa dirinya paling benar,
hanya karena dia berhasil menemukan kesalahan orang lain.
Padahal Tuhan seng pernah suruh katong jadi polisi kehidupan sesama.
Sebelum kritik orang lain,
bercerminlah.
Sebelum bicara tentang hidup orang,
periksa hidup sendiri.
Sebelum bilang,
“Dia harus berubah,”
coba berlutut dan bilang:
“Tuhan… mungkin beta juga perlu berubah.”
Karena kedewasaan rohani bukan ketika ale sudah pandai melihat kesalahan orang.
Kedewasaan rohani adalah ketika ale berani melihat kesalahan diri sendiri.
Jangan cuma rajin melihat orang.
Sekali-sekali… lihat diri sandiri.
Sebab bisa jadi,
orang yang paling perlu ale tegur hari ini…
bukan dia.
Tapi ale.
Pdt Yulita Souissa
sumber link : facebook



0 Comments