Header Widget

RAJIN MENILAI ORANG, LUPA BERCERMIN

 
RAJIN MENILAI ORANG, LUPA BERCERMIN.

Ale paling cepat lihat orang pung salah.

Orang bicara sedikit,
ale bilang sombong.

Orang diam,
ale bilang angkuh.

Orang gagal,
ale bilang seng mampu.

Orang jatuh,
ale bilang itu akibat pung dosa.

Aneh, e…

Kalau orang lain salah,
mata ale tajam sekali.

Tapi kalau diri sandiri yang salah,
mata tiba-tiba rabun.

Ale rajin menilai orang,
tapi lupa bercermin.

Ale sibuk menghitung kekurangan orang,
sampe lupa menghitung
berapa banyak hati yang terluka
karena ucapan ale.

Ale tahu siapa yang kurang rohani.
Ale tahu siapa yang kurang baik.
Ale tahu siapa yang hidupnya seng beres.

Ale tahu hampir semua tentang hidup orang lain.

Tapi pernah ka ale duduk diam,
jauh dari keramaian,
lalu tanya diri sandiri:

“Tuhan… bagaimana dengan beta?”

Jangan terlalu cepat bilang,

“Dia harus berubah.”

Bisa jadi Tuhan sedang pelan-pelan bertanya kepada ale:

“Beta pung anak…
bagaimana deng ale?”

Karena kadang-kadang,
katong terlalu sibuk memperbaiki hidup orang lain,
sampe lupa ada hati sendiri
yang juga perlu dibereskan.

Katong bukan dipanggil
untuk menjadi hakim atas kehidupan sesama.

Katong dipanggil
untuk belajar mengoreksi diri sendiri.

Jangan sampe ale terlalu sibuk menunjuk dosa orang,
sampe lupa…

satu jari ale memang menunjuk kepada dia,
tapi tiga jari lainnya
sedang menunjuk kembali kepada ale.

Dan yang paling menyedihkan…

Ada orang yang merasa dirinya paling benar,
hanya karena dia berhasil menemukan kesalahan orang lain.

Padahal,
menemukan kesalahan orang
tidak otomatis membuat diri sendiri benar.

Tuhan seng pernah suruh katong
jadi polisi kehidupan sesama.

Sebelum kritik orang lain,
bercerminlah.

Sebelum bicara tentang hidup orang,
periksa hidup sendiri.

Sebelum bilang,

“Dia harus berubah…”

coba berlutut dan bilang:

“Tuhan… mungkin beta juga perlu berubah.”

Karena kedewasaan rohani
bukan ketika ale sudah pandai melihat kesalahan orang.

Kedewasaan rohani adalah
ketika ale berani melihat
kesalahan diri sandiri.

Berani mengakui,
“Beta juga pernah salah.”

Berani meminta maaf,
“Beta juga pernah menyakiti.”

Dan berani berkata,
“Beta masih perlu Tuhan untuk berubah.”

Jadi…

Jangan cuma rajin melihat orang.

Sekali-sekali,
lihat diri sandiri.

Sebab bisa jadi…

orang yang paling perlu ale tegur hari ini
bukan dia.

Tapi ale.

Dan mungkin,
teguran Tuhan hari ini
bukan sedang ditujukan kepada orang lain.

Tapi sedang berbicara langsung
kepada hati ale.

Post a Comment

0 Comments