Kebun Itu Jadi Harapan Mama Maya
Malam di Kota Fakfak trada pernah betul-betul sunyi. Ombak masih baku pukul, angin dari gunung turun pelan, deng pikiran orang-orang masih kerja meski badan su capek.
Di kota ini, hidup orang trada bergantung di jalan raya deng kantor. Hidup berdiri di kebun, hutan, deng laut. Dari situlah orang Fakfak bertahan.
Salah satunya Mama Maya, umur 33 tahun. Dia mama Papua yang hidup dari kebun.
Setiap pagi Mama Maya su bangun sebelum matahari naik. Dia masuk kebun, tebang pohon kecil, bersihkan lahan, tanam singkong, keladi, pisang, deng sayur. Tangannya kasar, badannya capek, tapi langkahnya trada pernah berhenti.
“Kalau mama trada kerja kebun, ana-ana mau makan apa?” katanya
Hasil kebun itu dia bawa ke pasar. Dari situlah Mama Maya kumpul uang buat beli buku, seragam, deng sepatu sekolah empat ana. Barang sedikit atau banyak, semua jadi harapan.
“Sekolah itu masa depan,” katanya. “Biar ana-ana trada ulang hidup susah seperti mama.”
Suaminya kerja serabutan. Kadang ada kerja, kadang trada. Hidup trada bisa tunggu. Mama Maya pilih berdiri deng tenaga sendiri.
Setiap Minggu dia ke gereja. Dia trada minta kaya. Dia cuma berdoa minta sehat deng umur panjang, supaya bisa terus kerja dan sekolahkan ana-ana.
Kisah Mama Maya adalah cerita banyak mama Papua di Fakfak. Perempuan adat yang kerja diam-diam, tapi jadi tulang punggung keluarga.
Dari kebun, Mama Maya ajar satu hal:
martabat orang trada diukur dari kerja apa, tapi dari seberapa kuat dia jaga masa depan ana-ananya.



No comments