Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Berkebun di Kampung Skendi

 Berkebun di Kampung Skendi


Pagi itu udara di Kampung Skendi masih dingin. Embun menempel di daun-daun singkong, sementara suara burung terdengar dari arah hutan kecil di belakang kampung. Chados berjalan pelan menuju kebun sambil membawa parang dan noken di bahunya.


Bagi Chados, berkebun bukan hanya soal mencari makan. Kebun adalah tempat belajar tentang sabar, kerja keras, dan rasa syukur. Setiap hari ia membersihkan rumput, menanam sayur, dan menjaga tanaman dengan penuh perhatian.

Matahari mulai naik ketika Chados berhenti sejenak di pinggir kebun. Ia melihat jagung yang mulai tumbuh tinggi dan daun ubi yang hijau segar. Senyum kecil muncul di wajahnya. Semua hasil itu bukan datang dalam satu malam, tetapi dari kerja keras setiap hari.


“Tanah tidak pernah bohong,” kata Chados pelan. “Kalau tong rawat baik-baik, tanah juga kasih hasil yang baik.”

Menjelang sore, ia pulang membawa hasil kebun sederhana. Di sepanjang jalan Kampung Skendi, angin sore terasa sejuk. Meski hidup sederhana, Chados merasa bahagia karena dari kebun kecil itu, ia bisa  belajar mencintai alam yang Tuhan titipkan.


Post a Comment

0 Comments