Mama Maya deng Kebun yang Sekolahkan Ana-ana
Malam di Kota Fakfak trada pernah betul-betul sunyi. Ombak di laut masih baku pukul, angin dari gunung turun bawa dingin, deng orang-orang masih pikir hidup besok mau bagaimana.
Malam itu, Rabu 21 Januari 2026, di kampung-kampung sekitar kota, orang-orang baru saja pulang dari kebun. Lampu rumah baru dinyalakan . Badan capek, tapi pikiran trada bisa istirahat cepat.
Di Fakfak, hidup trada bergantung di jalan besar deng toko. Hidup orang di sini berdiri di atas tanah, kebun, hutan, deng laut. Dari pagi sampe sore, orang masuk kebun, tebang kayu kecil, bersihkan semak, tanam singkong, keladi, pisang, sayur-sayur.
Di salah satu rumah kecil, ada satu mama Papua duduk di teras. Tangannya kasar, kuku hitam kena tanah. Bajunya masih bau keringat deng daun. Tapi matanya kuat, trada gampang patah.
Nama dia Mama Maya. Umur 33 tahun. Dia mama Papua yang hidup dari kebun.
Mama Maya trada kerja kantoran. Trada terima gaji tiap bulan. Dia cuma punya kebun deng tenaga badan. Tapi dari situlah dia hidupi ana-ana.
Setiap pagi, sebelum matahari naik tinggi, Mama Maya su jalan ke kebun. Kadang deng suami, kadang sandiri. Dia tebang pohon kecil, bersihkan lahan, tanam, rawat kebun. Kerja berat, tapi dia su biasa.
“Banyak orang pikir mama trada tra cape kerja kebun k,” Mama Maya de bilang .
“Tapi kalau mama trada kerja, ana-ana mau makan apa?”
Badannya gemuk, tapi kuat. Tangannya trada takut parang. Kakinya trada takut tanah licin. Matahari panas, keringat turun, tapi dia tetap kerja.
Dulu ada orang sampaikan -. Bilang perempuan trada pantas kerja berat begini. Tapi Mama Maya trada peduli. Yang dia tau, tungku di rumah harus asap.
Dari Kampung ke Kota Fakfak
Mama Maya asli orang Fakfak. Dari kampung pesisir. Dari kecil hidup deng laut, kebun deng hutan. Alam itu mama deng bapak yang ajar dia hidup.
Sekarang dia tinggal dekat kota. Hidup makin susah. Ana-ana makin besar. Biaya sekolah makin banyak. Kebun bukan lagi pilihan, tapi jalan hidup.
Hasil kebun Mama Maya — singkong, keladi, pisang, sayur — dia bawa ke pasar. Dari situlah dia dapat uang buat beli buku, baju sekolah, sepatu untuk dia pu ana-ana.
“Kalau trada jual di pasar, ana-ana trada sekolah,” katanya.
“Sekolah itu masa depan.”
Suaminya kerja serabutan. Kadang ada kerja, kadang trada. Kalau tunggu satu orang saja, hidup trada cukup.
“Perempuan juga harus berdiri,” Mama Maya bilang tegas.
“Trada bisa sandar terus.”
Beban Hidup deng Kebun
Tahun 2020, hidup Mama Maya makin berat. Ana pertama masuk SD. Biaya sekolah datang cepat, trada tunggu orang siap.
Waktu pertama kali dia rajin jual hasil kebun di pasar, dia rasa malu. Barang sedikit, orang lihat-lihat.
“Tapi sa pikir, malu itu kecil,” katanya.
“Kalau ana trada sekolah, itu luka besar.”
Setiap uang yang dia pegang, itu hasil dari parang ayun, tanah digali, panas ditahan. Trada ada libur. Trada ada cuti.
Kadang hasil banyak, kadang sedikit. Tapi dia selalu sisihkan buat sekolah.
“Uang besar kecil, Tuhan tau,” katanya.
“Asal ana-ana bisa maju.”
Gereja deng Doa Mama Maya
Mama Maya punya empat ana. Harapan dia cuma satu: ana-ana trada ulang hidup susah seperti dia.
“Sa mau ana-ana sekolah tinggi,” katanya.
“Biar mereka hidup baik dari mama.”
Setiap Minggu, Mama Maya ke gereja. Di situ dia berdoa minta kesehatan, minta umur panjang.
Dia trada minta kaya. Dia cuma mau kuat kerja sampe ana-ana besar.
Kisah Mama Maya bukan cerita satu orang. Ini cerita banyak mama Papua di Fakfak. Perempuan adat yang kerja diam-diam, tapi hidupkan banyak orang.
Kota Fakfak terus jalan. Bangunan naik. Jalan dibuka. Tapi mama-mama kebun sering trada dilihat.
Padahal kota hidup karena orang kecil: petani kebun, nelayan, pedagang pasar, buruh, deng mama-mama yang trada pernah berhenti kerja.
Malam hari, setelah pulang dari kebun deng pasar, Mama Maya duduk di rumah. Badan capek, tangan sakit, tapi hati masih simpan harapan.
Besok pagi dia bangun lagi. Ambil parang lagi. Masuk kebun lagi. Demi satu doa yang sama:
Ana-ana harus sekolah.
Ana-ana harus hidup lebih baik.
Dari tanah Fakfak, Mama Maya ajar satu hal penting:
Martabat orang trada diukur dari kerja apa, tapi dari seberapa kuat dia jaga masa depan ana-ananya.
Malam itu, Rabu 21 Januari 2026, di kampung-kampung sekitar kota, orang-orang baru saja pulang dari kebun. Lampu rumah baru dinyalakan . Badan capek, tapi pikiran trada bisa istirahat cepat.
Di Fakfak, hidup trada bergantung di jalan besar deng toko. Hidup orang di sini berdiri di atas tanah, kebun, hutan, deng laut. Dari pagi sampe sore, orang masuk kebun, tebang kayu kecil, bersihkan semak, tanam singkong, keladi, pisang, sayur-sayur.
Di salah satu rumah kecil, ada satu mama Papua duduk di teras. Tangannya kasar, kuku hitam kena tanah. Bajunya masih bau keringat deng daun. Tapi matanya kuat, trada gampang patah.
Nama dia Mama Maya. Umur 33 tahun. Dia mama Papua yang hidup dari kebun.
Mama Maya trada kerja kantoran. Trada terima gaji tiap bulan. Dia cuma punya kebun deng tenaga badan. Tapi dari situlah dia hidupi ana-ana.
Setiap pagi, sebelum matahari naik tinggi, Mama Maya su jalan ke kebun. Kadang deng suami, kadang sandiri. Dia tebang pohon kecil, bersihkan lahan, tanam, rawat kebun. Kerja berat, tapi dia su biasa.
“Banyak orang pikir mama trada tra cape kerja kebun k,” Mama Maya de bilang .
“Tapi kalau mama trada kerja, ana-ana mau makan apa?”
Badannya gemuk, tapi kuat. Tangannya trada takut parang. Kakinya trada takut tanah licin. Matahari panas, keringat turun, tapi dia tetap kerja.
Dulu ada orang sampaikan -. Bilang perempuan trada pantas kerja berat begini. Tapi Mama Maya trada peduli. Yang dia tau, tungku di rumah harus asap.
Dari Kampung ke Kota Fakfak
Mama Maya asli orang Fakfak. Dari kampung pesisir. Dari kecil hidup deng laut, kebun deng hutan. Alam itu mama deng bapak yang ajar dia hidup.
Sekarang dia tinggal dekat kota. Hidup makin susah. Ana-ana makin besar. Biaya sekolah makin banyak. Kebun bukan lagi pilihan, tapi jalan hidup.
Hasil kebun Mama Maya — singkong, keladi, pisang, sayur — dia bawa ke pasar. Dari situlah dia dapat uang buat beli buku, baju sekolah, sepatu untuk dia pu ana-ana.
“Kalau trada jual di pasar, ana-ana trada sekolah,” katanya.
“Sekolah itu masa depan.”
Suaminya kerja serabutan. Kadang ada kerja, kadang trada. Kalau tunggu satu orang saja, hidup trada cukup.
“Perempuan juga harus berdiri,” Mama Maya bilang tegas.
“Trada bisa sandar terus.”
Beban Hidup deng Kebun
Tahun 2020, hidup Mama Maya makin berat. Ana pertama masuk SD. Biaya sekolah datang cepat, trada tunggu orang siap.
Waktu pertama kali dia rajin jual hasil kebun di pasar, dia rasa malu. Barang sedikit, orang lihat-lihat.
“Tapi sa pikir, malu itu kecil,” katanya.
“Kalau ana trada sekolah, itu luka besar.”
Setiap uang yang dia pegang, itu hasil dari parang ayun, tanah digali, panas ditahan. Trada ada libur. Trada ada cuti.
Kadang hasil banyak, kadang sedikit. Tapi dia selalu sisihkan buat sekolah.
“Uang besar kecil, Tuhan tau,” katanya.
“Asal ana-ana bisa maju.”
Gereja deng Doa Mama Maya
Mama Maya punya empat ana. Harapan dia cuma satu: ana-ana trada ulang hidup susah seperti dia.
“Sa mau ana-ana sekolah tinggi,” katanya.
“Biar mereka hidup baik dari mama.”
Setiap Minggu, Mama Maya ke gereja. Di situ dia berdoa minta kesehatan, minta umur panjang.
Dia trada minta kaya. Dia cuma mau kuat kerja sampe ana-ana besar.
Kisah Mama Maya bukan cerita satu orang. Ini cerita banyak mama Papua di Fakfak. Perempuan adat yang kerja diam-diam, tapi hidupkan banyak orang.
Kota Fakfak terus jalan. Bangunan naik. Jalan dibuka. Tapi mama-mama kebun sering trada dilihat.
Padahal kota hidup karena orang kecil: petani kebun, nelayan, pedagang pasar, buruh, deng mama-mama yang trada pernah berhenti kerja.
Malam hari, setelah pulang dari kebun deng pasar, Mama Maya duduk di rumah. Badan capek, tangan sakit, tapi hati masih simpan harapan.
Besok pagi dia bangun lagi. Ambil parang lagi. Masuk kebun lagi. Demi satu doa yang sama:
Ana-ana harus sekolah.
Ana-ana harus hidup lebih baik.
Dari tanah Fakfak, Mama Maya ajar satu hal penting:
Martabat orang trada diukur dari kerja apa, tapi dari seberapa kuat dia jaga masa depan ana-ananya.



No comments