Mama su pergi jauh
Judul: Mama su pergi jauh
Mama…
sejak ko su tra ada, malam jadi lebih panjang dari biasanya.
Sa duduk di beranda, dengar angin lewat pelan-pelan, tapi tra ada suara ko panggil nama sa.
Hati rasa kosong, Ma.
Bukan kosong biasa, tapi kosong deng angin malam pu dingin sampe masuk ke tulang.
Sa kira waktu bisa bantu sa lupa.
Ternyata tra.
Waktu cuma ajar sa cara hidup berdampingan dengan rindu.
Setiap pagi sa bangun, refleks cari ko—di dapur, di suara panci yang biasa ko bunyi.
Tapi yang sa dapat cuma sunyi, dan sunyi itu keras skali pukul hati.
Ko pergi tanpa ribut, Ma.
Tenang skali, seperti daun jatuh pelan dari pohon.
Tapi jatuhnya itu, hancur sa pu dunia.
Sa tra sempat bilang: “Ma, sa capek… sa butuh ko.”
Sa tra sempat peluk ko lama-lama, tra sempat bilang kalau cinta sa ke ko tra ada batas.
Sa ingat tangan ko.
Lembutnya penuh luka deng kerja, tapi hangatnya bisa sembuhkan sa pu takut.
Ko itu rumah, Mam.
Tempat sa pulang tanpa harus jelaskan apa-apa.
Sekarang rumah masih ada, tapi rasanya tra lengkap, seperti lagu tanpa nada terakhir.
Natal datang lagi, lampu warna-warni menyala.
Orang tertawa, bakar ikan, saling salam.
Sa ikut senyum, tapi hati sa duduk jauh di belakang.
Tahun baru datang bawa janji, tapi janji itu tra bisa kembalikan ko.
Sa belajar kuat di depan orang, tapi runtuh diam-diam saat sendiri.
Mama…
ko ajar sa tentang sabar, tentang kasih yang tra hitung rugi.
Ko bilang: hidup ini tra gampang, tapi Tuhan tra pernah tidur.
Sekarang sa pegang kata-kata itu erat-erat, walau tangan sa gemetar.
Ko memang su tra ada di depan mata, tapi ajaran ko masih hidup di sa pu langkah.
Kadang sa bicara sendiri ke langit.
Sa bilang: “Mama, jaga sa dari sana e.”
Sa percaya ko dengar, walau tra ada jawaban.
Mungkin ko sekarang jadi cahaya kecil yang jaga sa dari gelap.
Sa tra janji sa akan selalu kuat, Mam.
Ada hari-hari sa jatuh, ada malam sa menangis sampe tertidur.
Tapi sa janji :
sa tra akan berhenti jalan.
Sa akan hidup dengan cara yang ko banggakan.
Jika satu hari nanti sa dan ko bertemu lagi,
sa mau ko lihat sa sambil senyum,
dan sa bilang:
“Mama, sa su bertahan.
Sa su belajar kuat, walau tanpa ko di samping.”
Sampai hari itu datang,
nama ko sa simpan di doa,
wajah ko sa jaga di hati.
rindu ini selalu ada untukmu mam.
Mama…
sejak ko su tra ada, malam jadi lebih panjang dari biasanya.
Sa duduk di beranda, dengar angin lewat pelan-pelan, tapi tra ada suara ko panggil nama sa.
Hati rasa kosong, Ma.
Bukan kosong biasa, tapi kosong deng angin malam pu dingin sampe masuk ke tulang.
Sa kira waktu bisa bantu sa lupa.
Ternyata tra.
Waktu cuma ajar sa cara hidup berdampingan dengan rindu.
Setiap pagi sa bangun, refleks cari ko—di dapur, di suara panci yang biasa ko bunyi.
Tapi yang sa dapat cuma sunyi, dan sunyi itu keras skali pukul hati.
Ko pergi tanpa ribut, Ma.
Tenang skali, seperti daun jatuh pelan dari pohon.
Tapi jatuhnya itu, hancur sa pu dunia.
Sa tra sempat bilang: “Ma, sa capek… sa butuh ko.”
Sa tra sempat peluk ko lama-lama, tra sempat bilang kalau cinta sa ke ko tra ada batas.
Sa ingat tangan ko.
Lembutnya penuh luka deng kerja, tapi hangatnya bisa sembuhkan sa pu takut.
Ko itu rumah, Mam.
Tempat sa pulang tanpa harus jelaskan apa-apa.
Sekarang rumah masih ada, tapi rasanya tra lengkap, seperti lagu tanpa nada terakhir.
Natal datang lagi, lampu warna-warni menyala.
Orang tertawa, bakar ikan, saling salam.
Sa ikut senyum, tapi hati sa duduk jauh di belakang.
Tahun baru datang bawa janji, tapi janji itu tra bisa kembalikan ko.
Sa belajar kuat di depan orang, tapi runtuh diam-diam saat sendiri.
Mama…
ko ajar sa tentang sabar, tentang kasih yang tra hitung rugi.
Ko bilang: hidup ini tra gampang, tapi Tuhan tra pernah tidur.
Sekarang sa pegang kata-kata itu erat-erat, walau tangan sa gemetar.
Ko memang su tra ada di depan mata, tapi ajaran ko masih hidup di sa pu langkah.
Kadang sa bicara sendiri ke langit.
Sa bilang: “Mama, jaga sa dari sana e.”
Sa percaya ko dengar, walau tra ada jawaban.
Mungkin ko sekarang jadi cahaya kecil yang jaga sa dari gelap.
Sa tra janji sa akan selalu kuat, Mam.
Ada hari-hari sa jatuh, ada malam sa menangis sampe tertidur.
Tapi sa janji :
sa tra akan berhenti jalan.
Sa akan hidup dengan cara yang ko banggakan.
Jika satu hari nanti sa dan ko bertemu lagi,
sa mau ko lihat sa sambil senyum,
dan sa bilang:
“Mama, sa su bertahan.
Sa su belajar kuat, walau tanpa ko di samping.”
Sampai hari itu datang,
nama ko sa simpan di doa,
wajah ko sa jaga di hati.
rindu ini selalu ada untukmu mam.
Writer : CS



No comments