Header

Header
  • Breaking News

    Akar yang Tak Terlihat

     Akar yang Tak Terlihat

    Di sebuah desa kecil yang tenang, hiduplah seorang pemuda bernama Raka. Ia dikenal rajin dan penuh semangat. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, ia sudah berada di kebunnya. Namun ada satu hal yang membuat orang-orang sering menggelengkan kepala melihatnya.

    Raka sangat gemar menghias pohon mangga miliknya.

    Ia menggantung pita warna-warni di rantingnya. Ia mengecat batangnya dengan kapur agar tampak bersih. Ia bahkan memasang lampu kecil agar pohon itu terlihat indah saat malam tiba. Dari kejauhan, pohon itu memang tampak paling menarik di antara yang lain.

    Namun satu hal yang tidak pernah dilakukan Raka: menyuburkan tanahnya.

    Ia jarang memberi pupuk. Ia tak pernah memeriksa akar. Ketika musim kemarau datang, ia lebih sibuk membersihkan daun daripada memastikan air meresap hingga ke dasar tanah.

    Suatu hari, pohon mangga miliknya berbunga lebat. Raka tersenyum bangga. “Lihat, pohonku yang paling cantik,” katanya pada Pak Wiryo, tetangga yang kebunnya sederhana namun selalu berbuah manis.

    Pak Wiryo hanya tersenyum tipis.

    Beberapa bulan kemudian, buah-buah mulai muncul. Raka kembali bersemangat. Ia membersihkan permukaan buahnya agar tampak mengilap. Ia memotret dan membagikannya kepada teman-temannya.

    Namun ketika buah itu matang dan dipetik, rasanya hambar. Sebagian bahkan jatuh sebelum waktunya. Ada yang kecil, ada yang busuk di bagian dalam.

    Raka kecewa.

    Sementara itu, pohon Pak Wiryo yang tampak biasa saja justru berbuah lebat. Mangga-mangganya besar, harum, dan manis. Orang-orang datang membeli dan memuji hasil kebunnya.

    Dengan hati berat, Raka mendatangi Pak Wiryo.

    “Pak, saya sudah merawat pohon itu setiap hari. Saya bersihkan, saya hias, saya jaga. Tapi kenapa buahnya tidak manis?”

    Pak Wiryo mengajak Raka duduk di bawah pohonnya.

    “Kamu sibuk menghias ranting,” ucapnya pelan, “tapi lupa menyuburkan akar.”

    Raka terdiam.

    “Akar memang tidak terlihat,” lanjut Pak Wiryo, “tidak indah untuk dipamerkan. Tapi dari situlah pohon mendapat kekuatan. Tanah yang subur, air yang cukup, akar yang sehat — itulah yang membuat buah manis. Ranting hanyalah tempat bergantung.”

    Sejak hari itu, Raka berubah. Ia mulai membersihkan gulma di sekitar batang. Ia belajar membuat pupuk kompos. Ia memastikan air meresap sampai ke dalam tanah. Ia tak lagi memasang pita atau lampu.

    Musim berikutnya, pohonnya tak lagi paling mencolok. Namun ketika berbuah, rasanya manis dan harum. Orang-orang tak lagi memuji keindahannya, melainkan kualitasnya.

    Dan Raka akhirnya mengerti:

    Dalam hidup pun demikian. Jangan sibuk menghias apa yang terlihat orang lain — pakaian, pujian, pencitraan. Sibuklah menyuburkan akar — hati, niat, ilmu, dan karakter.

    Karena buah yang manis hanyalah hasil dari pohon yang sehat.

    No comments

    Post Top

    Post Bottom

    👉 Kunjungi Kartikel menarik lainnya di website resmi kami: 👉 👉 Klik Lalu Baca selengkapnya di sini