Header

Header
  • Breaking News

    bahagia yang lahir dari kebersamaan dan alam

     Foto ini kena sekali rasanya. 

    Dua anak, pondok kecil di atas tanah, rimbun hijau—sunyi tapi hidup. Ada dunia sederhana yang terasa utuh di sana. Tanpa gawai, tanpa riuh, hanya imajinasi, tawa kecil, dan waktu yang berjalan berlahan. Persis seperti potongan 90-an di Fakfak: bahagia yang lahir dari kebersamaan dan alam.

    Kalimatmu juga tepat sasaran—bahagia memang bukan soal punya apa, tapi bagaimana kita menciptakannya. Salut untuk dua bocah ini: mereka membangun dunianya sendiri, dan terlihat benar-benar cukup di dalamnya. Superrr abisss. 
     
    --------------------------
     
    Di rimbun hutan skendi, dua anak pernah membangun dunia kecil mereka. Pondok kayu itu berdiri miring, dipaku seadanya, seakan tahu ia tak diciptakan untuk bertahan lama. Atap seng tua berderit setiap kali angin lewat, mengiringi tawa polos yang lahir tanpa rencana. 
     
    Tak ada mainan mahal, tak ada janji masa depan—hanya cerita yang diulang, angin yang setia, dan imajinasi yang tak pernah kehabisan arah.

    Waktu itu, bahagia tidak diberi nama. Ia hadir begitu saja, diam-diam, lalu menetap. Dunia terasa cukup meski serba kurang. Kini, ketika waktu berjalan menjauh, pondok itu mungkin telah runtuh, dan tawa telah larut bersama usia. 

    Namun kenangan tetap tinggal, tumbuh pelan di sudut ingatan, berubah menjadi rindu yang lirih—selalu mengajak pulang, meski tahu tak semua yang ditinggalkan bisa ditemui kembali. 

    No comments

    Post Top

    Post Bottom

    👉 Kunjungi Kartikel menarik lainnya di website resmi kami: 👉 👉 Klik Lalu Baca selengkapnya di sini