Header

Header
  • Breaking News

    Batu-Batu yang Mengingat Darah



    Setiap sore, Mabel duduk di tepi sungai. Airnya jernih, mengalir pelan di antara batu-batu besar yang sudah ada sejak sebelum cerita apa pun dimulai. Orang-orang tua di kampung bilang, batu-batu itu bisa mengingat. Mereka menyimpan suara, jejak kaki, bahkan darah.

    Mabel percaya itu.

    Ia sering bertanya pada sungai, mengapa air yang begitu tenang melewati tanah yang begitu lelah.

    Dulu, kakeknya bercerita tentang Papua yang hijau dan bebas. Tentang ladang yang tumbuh tanpa rasa takut, tentang hutan yang menjadi ibu, bukan tempat persembunyian. Manusia hidup berdampingan dengan alam, saling mengenal nama dan batas.

    “Waktu itu, kita tidak kaya,” kata kakek. “Tapi kita utuh.”

    Lalu datanglah orang-orang asing.

    Mereka datang membawa bendera, senjata, dan kata-kata yang tak dipahami. Mereka bilang ini demi ketertiban, demi pembangunan, demi masa depan. Tapi yang Mabel dengar dari cerita para orang tua hanyalah tembakan, tangis, dan tanah yang tiba-tiba bukan lagi milik mereka.

    Ayah Mabel tidak pernah pulang dari hutan.

    Ibunya tak pernah menjelaskan secara lengkap. Hanya diam panjang setiap kali nama itu disebut, seolah kata-kata bisa membuka luka yang belum kering. Mabel tumbuh dengan pertanyaan yang tak pernah dijawab: salah apa kami?

    Di sekolah, Mabel belajar sejarah dari buku tipis. Tak ada nama kampungnya di sana. Tak ada cerita tentang sungai yang memerah, tentang adat yang patah, tentang nyawa yang hilang tanpa makam. Seolah penderitaan hanya rumor, bukan kenyataan.

    Namun tubuh orang-orang di kampung menyimpan kebenaran. Bekas luka, tatapan waspada, dan kebiasaan bicara pelan saat malam. Sejarah hidup di kulit mereka.

    “Papua ini kuat,” kata mama suatu malam. “Tapi kekuatan juga bisa lelah.”

    Mabel menatap api unggun yang mengecil. Ia tahu, Papua belum berhenti berdarah. Zaman berganti, wajah kekuasaan berubah, tapi rasa takut tetap sama. Hanya caranya yang berbeda.

    Suatu hari, Mabel berdiri di atas batu besar di sungai itu. Ia menutup mata, membiarkan air menyentuh kakinya. Dalam sunyi, ia merasa seolah batu-batu berbisik—tentang kakeknya, ayahnya, dan semua nama yang tak pernah tercatat.

    Ia membuka mata dengan napas gemetar.

    Mabel tahu, ia tak memegang senjata. Ia tak punya kekuasaan. Tapi ia punya suara, ingatan, dan keberanian untuk tidak lupa.

    “Sudah cukup,” bisiknya pada sungai. “Kami hanya ingin hidup.”

    Angin menggerakkan daun-daun di tepi air. Matahari condong ke barat. Untuk sesaat, dunia terasa damai—bukan karena luka telah sembuh, tetapi karena harapan masih bernapas.

    Papua belum merdeka dari penderitaan.
    Namun selama ada yang mengingat,
    sejarah tidak akan mati,
    dan suatu hari, keadilan akan menemukan jalan pulang.

    No comments

    Post Top

    Post Bottom

    👉 Kunjungi Kartikel menarik lainnya di website resmi kami: 👉 👉 Klik Lalu Baca selengkapnya di sini