A Day in My Life: Kisah Pecah Batu di Kampung Skendi, Lulusan Jogja Berpenghasilan 3 Juta Sehari
A Day in My Life: Kisah Pecah Batu di Kampung Skendi, Lulusan Jogja Berpenghasilan 3 Juta Sehari
Kisah nyata A Day in My Life Alumi Jogja yang memilih pecah batu di Kampung Skendi. Penghasilan hingga 3 juta per hari + peluang dari YouTube dan FB Pro.
A Day in My Life: Kisah Nyata dari Kampung Skendi
Artikel A Day in My Life ini menceritakan pengalaman nyata seorang lulusan Jogja yang memilih jalan hidup berbeda: menjadi pemecah batu di Kampung Skendi dengan penghasilan hingga 3 juta per hari, sekaligus membangun konten YouTube dan FB Pro.
Lulus Kuliah di Jogja, Tapi Tidak Kerja Kantoran
Saya pernah kuliah di Jogja, seperti kebanyakan orang yang berharap setelah lulus bisa bekerja di kantor dengan gaji tetap.
Namun kenyataannya berbeda.
Saya memilih pulang ke kampung dan menjalani pekerjaan sebagai pemecah batu. Keputusan ini mungkin dianggap aneh oleh sebagian orang.
Kenapa setelah kuliah justru memilih kerja kasar?
Jawabannya sederhana: kebebasan.
Di kantor, semua sudah diatur—jam kerja, aktivitas, bahkan waktu istirahat. Tapi di pekerjaan ini, saya bebas menentukan hidup saya sendiri.
Kehidupan Pecah Batu di Kampung Skendi
Setiap pagi dimulai dengan suara mesin pemecah batu. Saya bekerja memecah batu besar menjadi ukuran yang siap dijual.
Pekerjaan ini memang tidak mudah. Butuh tenaga, fokus, dan ketahanan fisik.
Namun bagi saya, ini adalah bagian dari proses hidup yang saya jalani dengan penuh kesadaran.
Di Kampung Skendi, pekerjaan ini sudah menjadi rutinitas yang menghasilkan.
Penghasilan Pecah Batu: Bisa 3 Juta Sehari
Banyak yang tidak menyangka, pekerjaan ini bisa menghasilkan cukup besar.
Harga 1 ret truk batu: Rp1.000.000
Hasil per hari: 3 ret truk
👉 Total penghasilan:
Rp3.000.000 per hari
Jika konsisten selama satu bulan, penghasilan bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Ini membuktikan bahwa kerja lapangan pun bisa memberikan hasil yang tidak kalah dari pekerjaan kantoran.
Alasan Memilih Kerja Bebas Tanpa Jadwal Kantor
Salah satu alasan utama saya memilih pekerjaan ini adalah karena tidak terikat waktu.
Saya bisa:
Menentukan sendiri jam kerja
Mengatur ritme pekerjaan
Tidak berada di bawah tekanan atasan
Berbeda dengan kerja kantoran yang penuh aturan, pekerjaan ini memberi saya kendali penuh atas waktu dan hidup saya.
Dari Pekerja Lapangan Menjadi Admin Website
Selain bekerja sebagai pemecah batu, saya juga seorang admin website.
Saya menulis, mengelola konten, dan belajar dunia digital secara mandiri.
Ini adalah kombinasi antara kerja fisik dan kerja online yang jarang dimiliki banyak orang.
Konten YouTube dan FB Pro dari Aktivitas Sehari-hari
Setiap aktivitas pecah batu saya rekam.
Video tersebut kemudian saya upload ke:
YouTube
Facebook Pro
Ternyata, banyak orang tertarik dengan kehidupan sederhana di kampung.
Dari sini, saya mulai mendapatkan peluang penghasilan tambahan dari konten digital.
Ini membuktikan bahwa:
👉 Aktivitas sehari-hari bisa jadi konten
👉 Konten bisa jadi penghasilan
Kesimpulan: Kerja Keras, Kebebasan, dan Peluang Digital
Kisah A Day in My Life ini menunjukkan bahwa jalan hidup tidak harus selalu mengikuti standar umum.
Lulus kuliah tidak selalu berarti harus kerja di kantor.
Dari Kampung Skendi, saya belajar bahwa:
Kerja keras tetap menjadi kunci utama
Kebebasan adalah nilai penting dalam hidup
Peluang bisa datang dari dunia digital seperti YouTube dan FB Pro
Pecah batu bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga pintu menuju peluang yang lebih besar.




No comments