Header

Header
  • Breaking News

    Di Ujung Perjalanan

     Di Ujung Perjalanan



    Waktu terus berjalan seperti sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Kota-kota berubah, gedung-gedung tumbuh tinggi, jalanan semakin ramai oleh langkah manusia yang mengejar mimpi mereka. Namun bagi Arga, ada satu hal yang selalu terasa sama—kenangan tentang rumah.

    Sudah hampir sepuluh tahun sejak ia meninggalkan kampung kecilnya. Dulu ia berangkat dengan tas sederhana dan mimpi yang besar. Ia ingin melihat dunia, bekerja, dan membuktikan bahwa dirinya mampu. Kota demi kota ia datangi. Pekerjaan demi pekerjaan ia jalani. Hidupnya sibuk, penuh target dan jadwal.

    Tapi setiap malam, ketika hiruk pikuk kota mulai mereda, pikirannya sering kembali pada satu tempat.

    Rumah.

    Rumah dengan dinding yang mulai pudar warnanya. Halaman kecil dengan pohon mangga yang dulu sering ia panjat. Dan suara ibunya yang selalu memanggilnya pulang sebelum magrib.

    Suatu malam, setelah hari yang panjang di kota yang asing, Arga menerima pesan singkat dari adiknya.

    “Bang, Ibu sering tanya kapan pulang.”

    Pesan itu sederhana. Tapi entah kenapa terasa berat di dada.

    Arga menatap layar ponselnya lama. Ia sadar selama ini ia terlalu sibuk mengejar sesuatu yang bahkan tak selalu membuatnya bahagia. Ia berpindah kota, berpindah pekerjaan, berpindah mimpi. Tapi ada satu tempat yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan di dalam hatinya.



    Rumah

    Beberapa minggu kemudian, Arga duduk di dalam bus yang melaju menuju kampungnya. Jalan yang dulu terasa begitu jauh kini terasa berbeda. Setiap tikungan seperti membawa kenangan lama kembali.

    Ketika bus berhenti di terminal kecil, langkahnya terasa ragu. Kampung itu tidak banyak berubah. Warung yang sama, jalan yang sama, bahkan aroma udara yang sama.

    Dan di depan rumahnya, seorang perempuan tua berdiri.

    Ibunya.

    Rambutnya kini lebih banyak yang memutih, tapi senyumnya masih sama seperti dulu. Hangat. Menenangkan.

    Arga berjalan mendekat, lalu tanpa banyak kata memeluk ibunya erat.

    Tidak ada yang berubah dari pelukan itu.

    Hangatnya masih sama seperti saat ia kecil dulu.

    Ibunya menepuk punggungnya pelan.
    “Kamu akhirnya pulang juga.”

    Arga tersenyum, matanya sedikit basah.

    Ia baru sadar satu hal yang sederhana namun sering dilupakan banyak orang.

    Waktu boleh berlalu.
    Kota boleh berganti.
    Mimpi boleh berubah.

    Tapi hangatnya pelukan keluarga… tidak pernah berubah.

    Karena pulang bukan soal seberapa jauh jarak yang ditempuh.

    Pulang adalah ketika hati akhirnya menemukan jalan kembali.

    No comments

    Post Top

    Post Bottom

    👉 Kunjungi Kartikel menarik lainnya di website resmi kami: 👉 👉 Klik Lalu Baca selengkapnya di sini