Kembali Menjadi Diri Sendiri
Judul: Kembali Menjadi Diri Sendiri
Terik matahari siang itu seperti tidak punya belas kasihan. Di lereng batu yang keras dan terjal, seorang lelaki tua terus membungkuk, memecah batu dengan tenaga yang tersisa di tubuhnya. Keringatnya jatuh, bercampur dengan debu dan tanah, seolah menjadi saksi dari perjalanan hidup yang panjang dan tidak mudah.
Dulu, ia bukan orang yang seperti ini.
Ia pernah menjadi seseorang yang selalu ada untuk orang lain. Menolong tanpa diminta, mengalah tanpa berpikir dua kali, dan mengorbankan dirinya demi melihat orang lain tersenyum. Baginya, kebahagiaan orang lain adalah tujuan hidup.
Namun, semakin lama… ia mulai merasa kosong.
Ia kehilangan dirinya sendiri.
“Untuk apa semua ini?” pertanyaan itu pernah terlintas, tapi selalu ia abaikan. Ia terus memberi, terus berusaha, sampai akhirnya ia sadar… tidak semua orang yang ia bahagiakan benar-benar peduli padanya.
Beberapa pergi.
Beberapa berubah.
Dan beberapa bahkan tidak pernah benar-benar menghargai.
Hari itu, di tengah sunyi dan kerasnya batu yang ia pecahkan, ia berhenti sejenak. Tangannya gemetar, bukan karena lelah saja, tapi karena sesuatu yang selama ini ia tahan.
Ia menatap ke bawah, pada serpihan batu yang telah ia hancurkan.
Seperti dirinya dulu.
Namun kali ini berbeda.
Ia tidak merasa hancur.
Ia merasa… sedang membangun kembali.
“Kehilangan diriku sendiri saat membahagiakan orang lain…” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan pada angin.
Ia menghela napas panjang.
“Sekarang aku lebih memilih kehilangan beberapa orang… agar aku bisa kembali hidup dengan karakterku sendiri.”
Tak ada lagi rasa takut ditinggalkan. Ia sudah mengerti satu hal penting—rumah terbaik bukanlah orang lain, melainkan dirinya sendiri.
Lelaki itu kembali mengangkat alatnya.
Batu demi batu ia pecahkan, bukan lagi sebagai beban… tapi sebagai simbol.
Simbol bahwa ia sedang menyusun ulang hidupnya.
Dengan cara yang sederhana, pelan, dan mungkin terlihat berat—
tapi kali ini, untuk dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
ia merasa utuh.



No comments