Pecah Batu Dari Martelu dan Betel Sampai berpindah ke Mesin
Pecah Batu Dari Martelu dan Betel Sampai berpindah ke Mesin
Pagi masih gelap sedikit ketika suara martelu mulai terdengar di pinggir bukit kecil itu.
Tok…
Tok…
Tok…
Di sana duduk CS, sendirian di atas batu besar. Di tangannya ada martelu dan betel yang sudah lama dipakai. Pegangannya mulai licin karena keringat dan waktu. Tangannya sendiri sudah kasar, penuh goresan kecil dari pekerjaan yang sama, hari demi hari.
Di depannya ada batu besar yang belum juga pecah.
Setiap hari pekerjaannya sama.
Duduk… pukul batu.
Duduk lagi… pukul batu lagi.
Kadang orang lewat di jalan itu. Mereka hanya lihat sebentar, lalu pergi. Bagi mereka itu cuma orang yang sedang memecah batu.
Tapi tidak ada yang tahu berapa lama seseorang harus memukul batu sebelum batu itu akhirnya retak.
Suatu pagi, seorang anak muda berhenti di situ. Dia melihat CS yang masih terus memukul batu yang sama.
Tok…
Tok…
“Ko masih pakai martelu dan betel?” tanya anak muda itu.
“Sekarang kan sudah ada mesin pemecah batu. Lebih cepat.”
CS berhenti sebentar. Dia mengusap keringat di dahinya, lalu tersenyum kecil.
“Iya, mesin memang ada,” katanya pelan.
“Tapi sebelum orang pakai mesin… mereka juga belajar pecah batu pakai martelu dan betel dulu.”
Anak muda itu duduk di batu kecil di dekatnya, memperhatikan.
CS mengangkat martelu lagi.
Tok…
Tok…
Batu itu masih keras. Tidak ada tanda-tanda mau pecah.
Anak muda itu tertawa kecil.
“Batu ini keras sekali. Dari tadi ko pukul, tapi dia tidak pecah juga.”
CS hanya mengangguk pelan.
“Memang keras,” katanya.
“Tapi kalau tong pukul terus di satu tempat… lama-lama dia akan menyerah juga.”
Dia memukul lagi.
Tok…
Tok…
Tok…
Tiba-tiba—
trak!
Batu besar itu retak.
Anak muda itu langsung berdiri kaget.
“Baru saja ko pukul sedikit, sudah pecah!”
CS tersenyum dan menggeleng.
“Bukan baru saja,” katanya.
Dia menunjuk batu itu.
“Batu ini pecah bukan karena pukulan terakhir. Dia pecah karena semua pukulan yang datang sebelumnya.”
Anak muda itu diam.
Angin pagi lewat pelan di bukit itu.
CS lalu berkata lagi dengan suara tenang:
“Begitu juga hidup, adik. Banyak orang sekarang mau langsung pakai mesin. Mau hasil cepat. Mau berhasil cepat.”
Dia melihat martelu di tangannya.
“Tapi mereka lupa… sebelum ada mesin, selalu ada orang yang sabar memukul batu satu per satu.”
Tapi karena kesabaran yang tidak pernah berhenti memukulnya.
Anak muda itu menunduk pelan.
Dia baru sadar sesuatu yang sederhana.
Kadang orang melihat seseorang berhasil hari ini, lalu mereka pikir itu terjadi tiba-tiba.
Padahal mereka tidak pernah melihat semua pukulan kecil yang sudah dia jalani sebelumnya.
Semua lelah.
Semua jatuh.
Semua usaha yang tidak pernah dilihat orang.
CS berdiri, menatap batu yang sudah pecah itu.
Lalu dia berkata pelan, seperti berbicara pada hidup itu sendiri:
“Dalam hidup ini, jangan malu kalau ko masih pegang martelu dan betel.”
Dia tersenyum tipis.
“Karena suatu hari nanti, waktu mesin datang… ko akan tahu betapa berharganya setiap pukulan kecil yang pernah ko buat.”
Dan pagi itu, di bukit yang sunyi itu, satu batu akhirnya pecah.
Bukan karena kekuatan besar.





No comments