Header

Header
  • Breaking News

    Pecah Batu: Martelu, Betel, dan Mesin


    Pagi masih berkabut ketika CS sudah duduk di pinggir bukit kecil itu.

    Di tangannya hanya ada martelu dan betel yang sudah lama menemaninya bekerja. Pegangannya sudah tua, sama seperti tangan CS yang penuh bekas luka kecil.

    Di depannya ada satu batu besar.

    Setiap hari batu itu dia pukul.

    Tok…
    Tok…
    Tok…

    Suara martelu terdengar pelan di pagi yang sunyi.

    Orang yang lewat di jalan sering melihat CS duduk di situ. Ada yang hanya melirik sebentar, ada juga yang tersenyum seperti merasa kasihan.

    “Kasihan… masih pecah batu pakai martelu,” pernah seseorang berkata sambil lewat.

    CS hanya diam. Dia tetap memukul batu itu.

    Tok…
    Tok…

    Suatu hari seorang anak muda berhenti di dekatnya. Dia memperhatikan CS yang sudah lama memukul batu yang sama.

    “Ko tidak capek?” tanya anak muda itu.

    CS berhenti sebentar lalu tersenyum kecil.

    “Capek itu pasti ada,” jawabnya pelan.

    Anak muda itu melihat batu yang masih utuh.

    “Sekarang orang sudah pakai mesin pemecah batu. Cepat sekali. Kenapa ko tidak pakai mesin saja?”

    CS tidak langsung menjawab.

    Dia mengangkat martelu dan memukul batu itu lagi.

    Tok…
    Tok…
    Tok…

    Batu itu masih keras seperti tadi.

    Anak muda itu menggeleng.

    “Kalau pakai mesin, mungkin dari tadi sudah pecah.”

    CS menaruh martelu di atas batu dan memandang batu itu lama.

    Lalu dia berkata pelan:

    “Ko tahu… batu ini tidak pecah karena satu pukulan.”

    Anak muda itu diam mendengar.

    CS menunjuk batu itu.

    “Dia pecah karena semua pukulan kecil yang datang sebelumnya.”

    Angin pagi lewat perlahan di bukit itu.

    CS lalu melanjutkan:


    “Dalam hidup juga begitu. Orang sering lihat hasil besar. Mereka pikir itu terjadi tiba-tiba.”

    Dia mengangkat martelunya lagi.

    “Padahal sebelum itu… ada banyak pukulan kecil yang tidak pernah dilihat orang.”

    Tok…
    Tok…
    Tok…

    Tiba-tiba terdengar suara kecil.

    Krek…

    Retakan kecil muncul di tengah batu.

    Anak muda itu langsung mendekat.

    “Eh… dia retak!”

    CS tersenyum tipis.



    “Lihat… dari tadi kelihatannya tidak terjadi apa-apa. Tapi sebenarnya batu ini sudah lama mulai menyerah.”

    Anak muda itu sekarang hanya diam memperhatikan.

    CS memukul batu itu sekali lagi.

    Tok!

    Batu itu akhirnya pecah menjadi dua.

    Sunyi sebentar.

    CS menatap batu yang sudah terbuka itu, lalu berkata pelan:

    “Dalam hidup ini… jangan malu kalau ko masih pegang martelu dan betel.”

    Dia mengangkat alat itu di tangannya.

    “Karena orang yang pernah sabar memukul batu dengan martelu… dia akan lebih mengerti arti setiap batu yang akhirnya pecah.”


    Anak muda itu menunduk pelan.

    CS lalu menatap jauh ke arah bukit dan berkata dengan suara yang hampir seperti bisikan:

    “Banyak orang mau langsung pakai mesin… tapi tidak semua orang kuat melewati masa ketika hidup masih terasa seperti memukul batu yang tidak mau pecah.”

    Pagi itu matahari mulai muncul dari balik bukit.

    Dan anak muda itu akhirnya mengerti satu hal sederhana yang sering dilupakan banyak orang:

    Kadang yang membuat batu akhirnya pecah…
    bukan pukulan terakhir.

    Tapi semua pukulan kecil yang dilakukan dengan sabar…
    ketika tidak ada siapa-siapa yang melihat.

    No comments

    Post Top

    Post Bottom

    👉 Kunjungi Kartikel menarik lainnya di website resmi kami: 👉 👉 Klik Lalu Baca selengkapnya di sini