Cahaya Layar di Ujung Malam
Cahaya Layar di Ujung Malam
Suasana ruang tamu itu hening, hanya interupsi suara jangkrik dari luar yang sesekali memecah kesunyian. Satria mengusap wajahnya yang lelah, matanya masih tertuju pada layar ponsel yang menyala terang. Di sana, notifikasi Facebook Professional miliknya terus berkedip—tanda bahwa jangkauan kontennya mulai menembus "istana" Meta.
Namun, ketenangan itu mendadak pecah saat sebuah pesan masuk ke kotak masuknya. Bukan dari sesama kreator, melainkan dari seorang wanita yang tidak ia kenal—istri dari salah satu teman sesama kreatornya di dunia digital.
"Jangan kasih semangat suami saya! Dia punya istri! Memangnya kamu tidak punya suami sendiri sampai harus ganggu suami orang?"
Satria menghela napas panjang. Kalimat pedas itu seolah menampar niat tulusnya untuk membangun jejaring. Padahal, komentar "Semangat Bang!" atau "Sukses selalu!" yang ia tinggalkan hanyalah bahan bakar agar algoritma mereka saling mengangkat, agar pundi-pundi rupiah dari FbPro bisa segera cair untuk dapur masing-masing.
"Ada apa, Mas?" suara istrinya terdengar dari ambang pintu kamar.
Satria mematikan layar ponsel sejenak. "Hanya salah paham kecil di media sosial, Dek. Biasa, dunia kreator."
Ia menatap istrinya, lalu kembali beralih ke grup komunitas para pria kreator. Jemarinya mulai menari di atas papan ketik, menuangkan keresahan yang sejak tadi tertahan:
“Pesan untuk para lelaki yang gabung jadi konten kreator: Tolong, bicara baik-baik ke istri kalian. Kasih paham kalau kita di sini sedang cari cuan sampingan. Kita saling support, saling balas pantun, dan saling kasih semangat itu murni urusan jangkauan konten supaya cepat FYP. Mau itu istri orang atau jomblo, di mata Meta kita ini pejuang konten yang sedang mengejar gaji.”
Satria memutuskan untuk tidak memajang foto profil dengan wajah aslinya. Ia lebih memilih menjaga privasi, membiarkan karyanya yang berbicara daripada harus berurusan dengan kecemburuan yang salah alamat. Baginya, menjaga keharmonisan rumah tangga orang lain sama pentingnya dengan mengejar target monetisasi.
"Dunia digital itu luas," gumam Satria dalam hati. "Tapi kalau komunikasi di rumah sempit, jangkauan sejauh apa pun tidak akan ada gunanya."
Ia pun menutup aplikasi, meletakkan ponselnya, dan bertekad besok pagi ia akan lebih giat lagi—tentu saja, setelah memastikan semua "pemeran utama" di dunia nyata sudah paham jalan ceritanya.




No comments