Menunggu Tanda Hijau
Menunggu Tanda Hijau
Bagi Januar, membuka aplikasi media sosial di ponselnya sudah menjadi ritual pagi yang lebih sakral daripada menyeruput kopi. Jarinya dengan lincah menari menuju menu Professional Dashboard. Di sana, sebuah kalimat masih setia menyapa: “Anda berada di daftar tunggu.”
Januar menghela napas. "Sudah tiga purnama, belum juga berubah jadi tombol 'Siapkan'," gumamnya.
Di sudut layar, ada ikon bintang kecil. Di sana tertulis angka $12.50. Itu adalah hasil jerih payahnya menghibur emak-emak dengan video tutorial memasak mi instan ala restoran bintang lima. "Bintang memang ada, tapi aku ingin bulan dan matahari monetisasi yang utuh!" serunya pada dinding kamar.
Teman-temannya sering mengejek. "Ngapain sih nungguin fitur beta? Mending kerja bakti!" Tapi Januar teguh. Ia tetap mengunggah video, membalas komentar meski hanya berupa emoji jempol, dan memastikan tidak ada musik ilegal yang nyangkut di kontennya.
Suatu malam, Januar bermimpi. Ia melihat Mark Zuckerberg datang membawa kunci emas berlogo dolar. Namun, saat kunci itu hendak diberikan, Mark malah bertanya, "Sudahkah kamu sabar hari ini?"
Januar terbangun dengan keringat dingin. Ia tertawa sendiri. Ternyata, menjadi kreator bukan hanya soal editan video yang estetik, tapi soal melatih otot kesabaran. Ia kembali membuka ponselnya, melihat status daftar tunggu itu, dan tersenyum.
"Biarlah. Kalau belum terbuka hari ini, mungkin besok. Kalau tidak besok, ya lusa. Yang penting, dolarnya—meski dari bintang—tetap nempel."



No comments