Salobar: Kenangan Manis di Tanah Fakfak papua barat
Salobar: Kenangan Manis di Tanah Fakfak
Saat masih tinggal di Fakfak, kebun adalah tempat bermain sekaligus ruang belajar bagiku. Di sana, aku menyesap rimbunnya pepohonan, mendengarkan simfoni kicauan burung, dan membiarkan udara sejuk memeluk kulit. Ada keindahan yang begitu tenang, yang rasanya sulit sekali digambarkan hanya dengan kata-kata.
Setiap hari setelah sekolah, kami sekeluarga berangkat menuju kebun. Saat itu, aku dan kakak perempuanku sudah SMA, sementara adik-adik masih SMP dan SD. Sore hari, setelah tugas belajar selesai, barulah kami melangkah menuju Salobar, sebuah wilayah di Fakfak Barat yang bertetangga dengan Kampung Tanama. Di sanalah, di bawah bimbingan Ibu dan Bapak, kami belajar mencintai tanah.
Kami menanam tanaman jangka pendek seperti keladi, jagung, petatas, dan kasbi. Di sudut lain, kacang panjang, mentimun, dan buncis tumbuh subur. Itulah rutinitas kami: menanam harapan yang kelak akan kami panen sendiri.
Ketika matahari tepat di atas kepala, kami berhenti sejenak. Memasak di kebun adalah perayaan kerja sama. Ada yang memetik sayur, ada yang mengumpulkan kayu bakar, dan ada pula yang menyiapkan bambu. Memasak di dalam bambu adalah kearifan yang sederhana—bambu-bambu itu tersedia gratis di alam, asalkan digunakan untuk kebutuhan makan. Aroma masakan yang keluar dari bambu yang terbakar selalu berhasil membangkitkan selera makan kami.
Setelah perut kenyang, kami kembali bekerja. Bapak adalah sosok yang disiplin; beliau selalu mengingatkan agar pekerjaan hari ini harus tuntas hari ini juga. Bagi Bapak, menunda pekerjaan adalah beban untuk hari esok.
Momen yang paling berkesan adalah saat perjalanan pulang menjelang sore. Kami harus menembus hutan yang jaraknya lumayan jauh untuk sampai ke jalan raya. Agar perjalanan tak terasa berat, kami saling melempar cerita sepanjang jalan. Tawa dan obrolan kami seolah menjadi penawar lelah; tahu-tahu saja rimbunnya hutan berganti dengan aspal jalan raya, tempat kami menunggu angkutan atau taksi.
Sering kali kami pulang berjalan kaki sambil memikul hasil bumi. Noken-noken kami penuh dengan berkat dari Salobar: ada sayuran seperti tenten, katenadeng, khorojen, rabong, dan pangkala ten, hingga umbi-umbian seperti btong, panggala, dan mombo. Meski raga terasa letih dan beban di bahu terasa berat, hati kami hangat karena tahu hasil keringat hari ini akan menjadi hidangan malam yang nikmat di meja makan rumah.




No comments